REVIEW KELOMPOK 10
Nama : CINDI NOVITA SARI
NPM : 1801051016
Kelas : PGMI B SEMESTER 4
Tugas : Review Kelompok 10
Mata
Kuliah : Psikologi Perkembangan
MASA DEWASA AWAL
Dewasa awal
ialah individu yang berada pada rentang usia 20-40 tahun, dimana salah satu
tugas perkembangannya ialah menjalin komitmen pribadi dengan lawan jenis, yaitu
melalui pernikahan. Pernikahan adalah sebuah komitmen legal dengan ikatan
emosional antara dua orang untuk saling berbagi baik keintiman fisik maupun
emosional, tanggung jawab, dan juga sumber pendapatan. Dewasa awal merupakan
masa peralihan dari masa remaja menuju ke masa dewasa. Masa muda (youth) adalah
istilah ahli sosiologi Kenneth Kenniston (dalam Santrock, 2002),untuk periode
transisi antara masa remaja dan masa dewasa yang merupakan masa perpanjangan
kondisi ekonomi dan pribadi yang sementara. Masa ini merupakan masa individu
untuk mulai dapat memenuhi kebutuhan ekonomi dan kebutuhan pribadi secara mandiri.
Hurlock
salah seorang psikologi menyatakan bahwa seseorang dikatakan dewasa bila telah
memiliki kekuatan tubuh secara maksimal, siap berproduksi, dan telah dapat
diharapkan memiliki kesiapan kognitif, afektif,dan psikomotor, serta dapat
diharapkan memainkan perannya bersama dengan individu-individu lain dalam
masyarakat.
Menurut
Hurlock, hal-hal yang menonjol dalam masa-masa dewasa awal sebagi berikut: 1) Masa
dewasa awal merupakan masa pengaturan, 2) Masa dewasa dini sebagai usia
reproduktif, 3) Masa dewasa awal sebagai masa bermasalah, 4) Masa dewasa awal
sebagai masa ketegangan emosional, 5) Masa dewasa awal sebagai masa
keterasingan sosial, 6) Masa dewasa awal sebagai masa komitmen, 7) Masa dewasa
awal sering merupakan masa ketergantungan, 8) Masa dewasa awal sebagai masa
perubahan nilai, 9) Masa dewasa awal masa penyesuaian diri dengan cara hidup
baru, 10) Masa dewasa awal sebagai masa kreatif.
1. Masa Matang pada Masa Dewasa Awal
Ditinjau
dari tugas perkembangan yang sedang dihadapi pada fase dewasa awal, maka tugas
perkembangan yang sedang dihadapi adalah memilih pasangan, mempersiapkan
pernikahan dan hidup berkeluarga. ).Walgito (2002),menjelaskan bahwa
bila seseorang telahmatang emosinya, maka individu tersebut telah dapat
mengendalibkan emosinya, sehingga individu akan berpikir secara matang,
berpikir secara baik, dan berpikir secara obyektif.Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dengan persepsi terhadap
pernikahan pada usia dewasa awal dan untuk mengetahui seberapa besar sumbangan
efektif yang diberikan olehkematangan emosi terhadap persepsi terhadap
pernikahan.
2. Menemukan Jati Diri dan Kemandirian pada Masa Dewasa
Awal
Masa dewasa
merupakan masa peralihan dari masa ketergantungan ke masa mandiri, baik dari
segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa
depan sudah lebih realistis, pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang
peranan. Menurut Erikson seseorang yang sedang mencari identitas akan berusaha
“menjadi seseorang”, yang berarti berusaha mengalami diri sendiri sebagai “AKU”
yang bersifat sentral, mandiri, unik, yang mempunyai suatu kesadaran akan
kesatuan batinnya, sekaligus juga berarti menjadi “seseorang” yang diterima dan
diakui oleh orang banyak. Pemilihan karier yang tepat merupakan salah satu
usaha menuju kemandirian baik secara finansial maupun psikologis.
3. Perkembangan Kognitif, Sosial, Moral, Agama, Karir,
dan Perencanaan Membentuk Keluarga pada Masa Dewasa Awal
Ditinjau
dari teori perspektif teori kognitif Piaget, maka remaja telah mencapai tahap
pemikiran operasional formal (formal operational thought),yaitu suatu tahap
perkembangan kognitif yang dimulai pada usia sekitar 11/12 tahun sampai mereka
mencapai masa dewasa (Lerner & Hustlsch, 1983). Maka dalam hal ini, perkembangan
kognitif pada masa dewasa awal tentu akan mengarah kepada kehidupan dan masa
depan seperti menikah, memiliki pekerjaan yang mapan serta menyiapkan tabungan
dan segala macam kebutuhan untuk menunjang kehidupanya di masa mendatang. Secara
umum, pola perilaku moral atau kebiasaan pribadi seseorang dipandu oleh
keyakinan agama. Artinya dimensi ini berkaitan dengan bagaimana seseorang
merealisasikan ajaran-ajaran agama atau pengetahuan-pengetahuan agama yang
diyakini, dalam perilaku sehari-hari
Umur ideal
yang dikemukakan beberapa hal sebagai bahan pertimbangan Walgito (2004) adalah
umur yang sebaikanya untuk melangsungkan pernikahan pada wanita sekitar 23-24
tahun, sedangkan pada pria sekitar umur 26-27 tahun. Pada umur-umur tersebut
pada umumnya telah mencapai kematangan kejasmanian, psikologis, dan dalam
keadaan normal pria umur sekitar 26-27 tahun telah memilki penghasilan untuk
menghidupi keluarga.
Masa dewasa
menurut konsep Islam adalah fase dimana seseorang telah memilikitingkat
kesadaran dan Kecerdasan emosional,moral,spiritual dan agama
secaramendalam.Saat telah menginjak usiadewasa terlihat adanya kematangan jiwa
mereka; “Saya hidup dan saya tahu untuk apa,” menggambarkan bahwa di usia
dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna
hidup.Dengan kata lain, orang dewasa berusaha mencari nilai-nilai yang
akan dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang
dipilihnya.
4. Kemandirian dalam Bersikap, Bertindak, Ekonomi, dan
Pendidikan Dimasa Dewasa Awal
Banyak orang
dewasa muda yang tidak atau kurang memiliki ketrampilan untuk pekerjaan
tertentu serta tidak sesuai pula dengan ketrampilan dan pengetahuan yang
dimiliki. Masa ini disebut “masa berharap bekerja (job hopping)” yang biasa
terjadi pada waktu orang dewasa berusia 20an –30an.Memilih bidang pekerjaan
yang cocok dengan minat dan bakatnya dapat dilihat dari beberapa faktor umum
seperti apakah dirinya menyukai jenis pekerjaan yang dipilihnya, mampu menyelesaikan
tugas-tugas tertentu dengan baik, dan keharusan membayar uang atau tanggung
jawab lainnya. Orang dewasa muda yang mempunyai tanggung jawab untuk menanggung
beban keluarga sering lebih cepat dalam menentukan bidang pekerjaan yang
diminati dibandingkan dengan orang dewasa muda yang tidak mempunyai tanggungan
keluarga.
5. Tanggung Jawab Sosial dan Moral Dewasa Awal terhadap
Orang Tua, Masyarakat, dan Bangsa
Sebagai individu yang sudah
tergolong dewasa peran dan tanggung jawabnya tentu makin bertambah besar,tak
lagi harus bergantung secara ekonomis,sosiologis,ataupun psikologis pada orang
tuanya.mereka harus merasa tertantang untuk membuktikan dirinya sebagai seorang
pribadi dewasa yang mandiri. Menjadi dewasa artinya tidak sekedar tumbuh dan
berkembang secara fisik, tetapi juga menjadi metang secara emosional, sosial
dan juga moral. Kedewasaan mengandung seperangkat tanggung jawab pribadi dan
sosial. Kematangan seseorang diukur dari sejauh mana ia dapat bertanggung jawab
untuk diri sendiri dan orang lain.
REVIEW KELOMPOK 11
Nama : CINDI NOVITA SARI
NPM : 1801051016
Kelas : PGMI B SEMESTER 4
Tugas : Review Kelompok 11
Mata
Kuliah : Psikologi Perkembangan
MASA DEWASA MADYA
Pada
umumnya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia antara
40 – 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani
dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik,
sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Selama masa dewasa dunia sosial
dan personal dari individu menjadi lebih kompleks dibandingkan dengan masa-masa
sebelumnya. Penyesuaian pada tahap usia ditentukan oleh dua faktor. Pertama
adalah sejauh mana seseorang memainkan salah satu peran sosial secara tepat
sesuai dengan yang diharapkannya. Kedua adalah sejauh mana seseorang memainkan
peran penting dalam mengembangkan tugas seseorang selama usia madya untuk
mencapai tanggung jawab sebagai warga negara dan tanggung jawab sosial.
1.
Dewasa
Madya
Ada
beberapa pendapat tentang masa dewasa madya, antara lain : Usia dewasa madya
atau yang popular dengan istilah setengah baya, dari sudut posisi usia dan
terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan dengan
masa remaja. Bila masa remaja merupakan masa peralihan, dalam arti bukan lagi
masa kanak-kanak namun belum bisa disebut dewasa, maka pada setengah baya,
tidak dapat lagi disebut muda, namun juga belum bisa dikatakan tua.
2.
Perkembangan
Fisik Dewasa Madya
Pada
masa ini, baik pria maupun wanita selalu terdapat ketakutan, dimana
penampilannya pada masa ini akan menghambat kemampuannya untuk mempertahankan
pasangan mereka, atau mengurangi daya tarik lawan jenis. Ada beberapa Perubahan
Fisik pada masa ini antara lain ; tumbuhnya uban, kulit mulai keriput, gigi
yang menguning, tulang-tulang bergeser lebih dekat antara yang satu dengan yang
lainnya, sulit melihat objek-objek yang dekat, penurunan pada sensitivitas
pendengaran, menopause (reproduksi haid akan mulai berhenti), dan lain-lain. Melihat
dan mendengar merupakan dua perubahan yang paling menyusahkan paling banyak
tampak dalam dewasa tengah. Daya akomodasi mata untuk memfokuskan dan
mempertahankan gambar pada retina akan mengalami penurunan tajam antara usia 40
tahun keatas. Karena pada usia tersebut aliran darah pada mata juga berkurang.
Pendengaran mungkin juga mulai menurun pada usia ini yaitu mulai memasuki usia
40. Pada masa usia madya terjadi penurunan dalam kemampuan indera, perubahan
keberfungsian fisiologis dan penurunan kesehatan.
3.
Perkembangan
Sosial
Pada
masa dewasa madya ini, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola
dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang
lebih muda. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh
perubahan-perubahan fisik dan kognitif yang berkaitan dengan penuaan, tetapi
lebih disebabkan oleh peristiwa-peristiwa kehidupan yang dihubungkan dengan
keluarga dan pekerjaan. Selama periode ini orang melibatkan diri secara khusus
dalam karir, pernikahan, dan hidup berkeluarga. Menurut Erikson, perkembangan
psikososial selama masa dewasa dan tua ini ditandai dengan tiga gejala penting,
yaitu keintiman, genertif dan integritas.
4.
Perkembangan
Kognitif
Pada
tahap perkembangan kognitif terjadi perubahan perkembangan intelektual dewasa
sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap
sebelumnya. Pada masa ini individu dalam menyelesaikan masalahnya terlebih
dahulu memikirkannya secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan
penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini,
seorang individu kemudian membuat suatu strategi penyelesaian.
5.
Perkembangan
Agama pada Masa Dewasa Madya
Sejalan
dengan tingkat perkembangan usianya, sikap keberagamaan pada orang dewasa
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1) menerima kebenaran agama berdasarkan
pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan, 2) realis,
sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah
laku, 3) bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha
untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan, 4) tingkat ketaatan
beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap
keberagaman merupakan realisasi dari sikap hidup, 5) bersikap lebih terbuka dan
wawasan yang lebih luas, 6) bersikap lebih kritis terhadap materiajaran agama
sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga
didasarkan atas pertimbangan hati nurani, 7) sikap keberagaman cenderung
mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya
pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama
yang diyakininya, 8) terlihat adanya hubungan antara sikap keberagaman dengan
kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial
keagamaan sudah berkembang.
6.
Peran
Pendidikan pada Masa Dewasa Madya
Pada
usia dewasa madya, pendidikan sudah melemah. Karena pada usia dewasa madya,
adalah usia yang telah matang. Dan pada saat ini, seseorang telah mampu
mengaplikasikan pendidikan yang telah diterima itu kepada anak-anaknya.
Seseorang telah menjadi orang tua dan mampu mengarahkan anak-anaknya kepada
pendidikan yang lebih maju lagi, sehingga mampu menjadikan anak-anaknya sukses.
7.
Menghadapi
Masa Menopause dan Andropause
Bagi
wanita, perubahan biologis yang utama terjadi selama masa pertengahan dewasa
adalah perubahan dalam hal kemampuan reproduktif, yakni mulai mengalami
menopause atau berhentinya menstruasi
dan hilangnya kesuburan. Pada umunya, menopause mulai terjadi pada usia sekitar
50 tahun, tetapi ada juga yang sudah mengalami menopause pada usia 40 tahun.
Peristiwa menopause disertai dengan berkurangnya hormone estrogen. Avis
menyatakan dikutip oleh Nilal Ulya bahwa wanita dalam usia menopause mudah
tersinggung, gugup, tertekan, dan depresi yang meningkat, tetapi penelitian
tidak menetapkan hubungan yang jelas antara gangguan dan perubahan biologos
normal tersebut.
Bagi
laki-laki, proses penuaan selama pertengahan dewasa tidak begitu nampak jelas,
karena tidak ada tanda-tanda fisiologis dari peningkatan usia seperti
berhentinya haid pada perempuan. Lebih dari itu, laki-laki tetap subur dan
mampu menjadi ayah anak-anak sampai memasuki usia tua. Hanya beberapa
kemunduran fisik juga terjadi secara berangsur-angsur, seperti berkurangnya
produksi air mani.
8.
Status
Sosial Dewasa Madya
Banyak
orang yang berusia madya terutama kaum wanitanya menyadari bahwa kegiatan
sosial dapat menghilangkan kesepian karena anak-anak telah dewasa semua dan
mulai berkeluarga. Selama usia madya, orang senang terhadap kegiatan menjamu
teman dalam bentuk acara makan malam, pesta-pesta, dan pada umumnya kehidupan
sosial mereka senang berkumpul dengan jenis kelamin yang sama. Kegiatan semacam
ini mencapai puncaknya pada waktu mereka berusia sekitar akhir 40 an dan
mengakami penurunan pada usia 60-an. Ada kegiatan sosial untuk orang yang
berusia madya yang membedakan jenis kelamin sebagai persyaratan yang setengah
resmi. Kebanyakan pria menjadi anggota yang lebih dari satu organisasi,
sedangkan wanita lebih banyak mencurahkan tenaga dan waktunya dalam kegiatan
organisasi dimana dia terdaftar sebagai anggotanya dibandingkan pria.
9.
Perkembangan
Karir Masa Dewasa Madya
Berkaitan
dengan usia yang semakin tua, pada usia dewasa madya tugas perkembangan bukan lagi
untuk menikah. Usia dewasa madya dimulai sekitar usia 40 tahun hingga 60
tahun dan merupakan masa produktif bagi
yang memiliki karir. Di usia yang makin matang, kesibukan dalam karir, serta
mobilitas yang cukup tinggi, utamanya bagi perempuan yang tinggal di daerah
perkotaan, dapat mengurangi kesempatan untuk menemukan pasangan hidup. Ada
sejumlah kondisi yang penting bagi pria, yang mempengaruhi proses penyesuaian
pria terhadap pekerjaannya. Pertama, apabila pekerjaannya memungkinkannya untuk
berperan maka ia akan memainkan perannya, ia akan merasa sangat puasdan proses
penyesuaiannya berjalan dengan sangat harmonis. Kedua, kepuasan dapat diperoleh
apabila pria merasa bahwa pekerjaannya menuntut banyak kemampuan yang dimiliki
dan hasil pendidikannya. Ketiga, proses penyesuaian dengan pekerjaan
dipengaruhi oleh cara pria menyesuaikan dirinya dengan wewenang. Keempat,
penyesuaian terhadap pekerjaan dipengaruhi oleh meningkat tidaknya gaji yang
diterima.
10. Kontribusi Keluarga Usia Madya
Memasuki
usia dewasa madya, seorang pria harus mempersiapkan diri untuk dapat hidup dan
menghidupi keluarganya. Ia harus mulai bekerja mencari nafkah. Kaum
perempuanpun harus juga mempersiapkan dirinya untuk berumah tangga. Individu
yang telah memasuki usia dewasa madya menghadapi penyesuaian terhadap kehidupan
keluarga. Penyesuaian ini dilakukan karena pada saat usia madya terjadi
perubahan besar dalam kehidupan keluarga seorang individu seperti mulai
ditinggalkan oleh anak, pasangan yang mulai menua, dan berbagai perubahan lainnya.
11. Kontribusi terhadap Anak
Para
orang tua bahkan merasa bangga dan
bahagia, ketika melihat anak-anak sanggup melangkahkan kaki, menjadi pribadi
yang mandiri dan dewasa. Dan yang terpenting, hubungan antara orang tua dengan
anak-anak mereka malah semakin berkualitas. Mengapa demikian? Alasannya karena
berkurangnya stressor atau tekanan yang biasanya muncul ketika keduanya (orang
tua - anak) tinggal satu rumah; apalagi ketika sang anak berada di usia remaja.
Mereka malah menganggap bahwa pada masa ini merupakan masa yang menyenangkan
atau berdampak positif bagi mereka karena mereka merasa telah berkurang stresor
atau tekanan yang muncul ketika orang tua dan anak masih tinggal satu rumah dan
justru pada masa itu mendatangkan manfaat lain, bisa menentukan kepuasan dan
kebahagiaan orang tua dalam menjalani fase usia dewasa madya ini.
12. Menjadi Warga Negara yang
Bertanggung Jawab
Warga Negara
yang baik adalah warga Negara yang taat dan patuh pada tata aturan
perundang-undangan yang berlaku. Hal ini diwujudkan dengan cara-cara seperti
berikut: 1) menggunakan dan memiliki surat-surat kewarganegaraan (KTP, Akta
Kelahiran, surat paspor/visa bagi yang akan keluar negeri), 2) membayar pajak
(pajak televisi, telepon, listrik, air, pajak kendaraan, dan pajak tanah), 3) menjaga
ketertiban dan keamanan masyarakat dengan mengendalikan diri agar tidak terlihat
buruk di mata masyarakat, 4) mampu menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial
dimasyarakat ikut terlibat dalam kegiatan gotong-royong, kerja bakti
membersihkan selokan, memperbaiki jalan dan sebagainya.
Komentar
Posting Komentar