REVIEW KELOMPOK 6
Nama : CINDI NOVITA SARI
NPM : 1801051016
Kelas : PGMI B SEMESTER 4
Tugas : Revies Kelompok 6
Mata
Kuliah : Psikologi Perkembangan
Perkembangan pada Masa Usia Dini
Usia dini merupakan
masa emas, masa ketika anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang pesat.
Pada usia ini anak paling peka dan potensial untuk mempelajari sesuatu, rasa
ingin tahu anak sangat besar. Hal ini dapat kita lihat dari anak sering
bertanya tentang apa yang mereka lihat. Apabila pertanyaan anak belum terjawab,
maka mereka akan terus bertanya sampai anak mengetahui maksudnya. Di samping
itu, setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri yang berasal dari faktor
genetik atau bisa juga dari faktor lingkungan. Faktor genetik misalnya dalam
hal kecerdasan anak, sedangkan faktor lingkungan bisa dalam hal gaya belajar
anak.
A.
Pengertian
Masa Usia Dini
Di
Indonesia pengertian anak usia dini ditujukan kepada anak yang berusia 0-6
tahun, seperti dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 1 ayat 14 yang menyatakan
pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diperuntukkan bagi anak sejak
lahir sampai usia 6 tahun. Sedangkan Anak usia dini menurut NAEYC (National
Association for The Education of Young Children), adalah anak yang berusia
antara 0 sampai 8 tahun yang mendapatkan layanan pendidikan di taman penitipan
anak, penitipan anak dalam keluarga (family child care home), pendidikan
prasekolah baik negeri maupun swasta, taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar
(SD). Hal ini dapat disebabkan pendekatan pada kelas awal sekolah dasar kelas
I, II dan III hampir sama dengan usia TK 4-6 tahun. Anak usia dini merupakan
masa peka dalam berbagai aspek perkembangan yaitu masa awal pengembangan
kemampuan fisik motorik, bahasa, sosial emosional, serta kognitif.
Karakteristik anak usia dini merupakan individu yang memiliki tingkat
perkembangan yang relatif cepat merespon (menangkap) segala sesuatu dari
berbagai aspek perkembangan yang ada.
B.
Masa
The Golden Age
Golden Age (masa emas) ialah masa Anak Usia Dini untuk
mengeksplorasi hal-hal yang ingin mereka lakukan, masa golden age merupakan masa yang paling penting untuk membentuk
karakter anak. Membentuk karakter anak adalah tanggung jawab orang tua karena
anak terlahir dalam keadaan suci, orang tualah yang akan menjadikan anak
tersebut seperti apa. Pada masa keemasan inianak akan lebih
aktif, kreatif danmempunyai keingintahuan yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian ilmiah di bidang
Neurologi oleh Osbon, White, Bloom bahwa usia dini merupakan usia yang sangat
penting bagi perkembangan anak yang berkesinambungan. Pada usia 0-4 tahun
perkembangan kecerdasan anak mencapai 50%, pada usia 4-8 tahun perkembangan
kecerdasan anak mencapai 30%, dan pada usia 8-18 tahun perkembangan kecerdasan
anak 20%. Dengan demikian maka masa emas (Golden
age) terletak pada anak usia dini, pada masa inilah orang tua dituntut
untuk harus menstimulasi perkembangan kecerdasan anak untuk membentuk karakter
yang mulia. Meskipun demikian karakter emas tidak akan terbentuk secara optimal
apabila hanya distimulasi pada usia dini saja.
C.
Toilet
Training
Menurut Nizar, latihan penggunaan toilet adalah suatu usia untuk
melatih anak usia dini agar mampu mengontrol dalam melakukan BAB atau BAK. Pengajaran
latihan penggunaan toilet pada anak usia dini memerlukan beberapa tahapan,
seperti: pembiasaan menggunakan toilet pada anak usia dini untuk buang air
sehingga anak cepat beradaptasi, perlu rutinitas apalagi ketika anak terlihat
ingin buang air, anak dibiarkan duduk pada waktu-waktu tertentu setiap hari,
terutama 20 menit setelah bangun tidur dan selesai makan, ini bertujuan agar
anak usia dini dibiasakan dengan jadwal buang airnya. Apabila anak sesekali
mengompol dalam masa latihan penggunaan toilet, merupakan hal yang normal.
Apabila anak berhasil melakukan penggunaan toilet dengan baik, maka guru atau
orang tua dapat memberikan pujian dan jangan menyalahkan apabila
anak belum dapat melakukannya dengan baik.
D.
Mengenal
Jenis Kelamin Sendiri
Pendidikan
seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai
saat anak usia 3-4 tahun, karena pada usia ini anak sudah bisa melakukan
komunikasi dua arah dan dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat
pula dilanjutkan pengenalan organ tubuh internal. Pendidikan seks untuk anak
usia dini berbeda dengan pendidikan seks untuk remaja. Pendidikan seks untuk
remaja lebih pada seputar gambaran biologi mengenai seks dan organ reproduksi,
masalah hubungan, seksualitas, kesehatan reproduksi serta penyakit menular
seksual, sedangkan pada anak. usia dini lebih pada pengenalan peran jenis
kelamin dan pengenalan anatomi tubuh secara sederhana. Pada usia balita,
tujuannya adalah untuk memperkenalkan organ seks yang dimiliki, seperti
menjelaskan anggota tubuh lainnya, termasuk menjelaskan fungsi serta cara
melindunginya. Pada umur 3 – 5 tahun, mengajarkan mengenai organ tubuh dan
fungsi masing-masing organ tubuh, jangan ragu juga untuk memperkenalkan alat
kelamin si kecil. Umur 6 – 9 tahun diajarkan mengenai apa saja yang harus
dilakukan untuk melindungi dirinya sendiri.
E.
Perkembangan
Fisik
Proporsi
tubuh anak berubah secara dramatis, seperti pada usia tiga tahun, rata-rata
tingginya sekitar 80-90 cm, dan beratnya sekitar 10-13 kg, sedangkan pada usia
lima tahun, tingginya mencapai 100-110 cm. Tulang kakinya tumbuh dengan cepat,
namun pertumbuhan tengkoraknya tidak secepat usia sebelumnya. Tulang dan gigi
anak semakin besar serta lengkapnya gigi anak, sehingga si anak sudah mulai
menyukai makanan padat, seperti: daging, sayuran, buah-buahan dan
kacang-kacangan.
F.
Perkembangan
Motorik
Perkembangan
motorik meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar
melibatkan otot-otot besar dan motorik halus melibatkan otot-otot kecil.
Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh anak melibatkan otot dan anak pada masa
tataran usia dini lebih cenderung aktif/lebih senang bergerak, lebih senang
melakukan percobaan atau praktik, lebih senang bermain baik permainan yang
membutuhan banyak energi maupun permainan yang hanya menampakkan sedikit
gerakan. Sedikit ataupun banyak gerakan yang dilakukan tetap melibatkan otot,
sehingga perkembangan motorik sangat menunjang aspek perkembangan yang lain.
G.
Perkembangan
Kognitif
Kognitif
artinya kemampuan berfikir, kemampuan menggunakan otak. Perkembangan kognisi
berarti perkembangan anak dalam menggunakan kekuatan berfikirnya. Dalam
perkembangan kognitif, anak dalam hal ini otaknya mulai mengembangkan kemampuan
untuk berfikir, belajar dan mengingat. Dunia kognitif anak pada usia ini adalah
kreatif, bebas, dan fantastis. Imajinasi anak berkembang sepanjang waktu, dan
pemahaman mental mereka mengenai dunia menjadi lebih baik.Pada tingkat ini anak
sudah dapat meningkatkan penggunaan bahasa dengan menirukan prilaku orang dewasa.
H.
Perkembangan
Sosial
Charlotte
Buhler membagi tingkatan perkembangan sosial anak menjadi 4 tingkatan sebagai
berikut :
1. Tingkat
pertama: sejak dimulai umur 0;4/06;0 tahun, anak mulai mengadakan reaksi
positif terhadap orang lain, antara lain ia tertawa karena mendengar suara
orang lain. Anak menyambut pandangan orang lain dengan pandangan kembali dan
lain-lain.
2. Tingkatan
kedua: adanya rasa bangga dan senang yang terpancar dalam gerakan dan mimiknya,
jika anak tersebut dapat mengulangi yang lainnya. Contoh: anak yang berebut
benda atau mainan, jika menang dia akan kegirangan dalam gerak dan mimik.
Tingkatan ini biasanya mulai muncul pada usia anak ± 2 tahun ke atas.
3. Tingkatan
ketiga: jika anak telah lebih dari umur ± 2 tahun, mulai timbul perasaan
simpati (rasa setuju) dan atau rasa antipati (rasa tidak setuju) kepada orang
lain, baik yang sudah dikenalinya atau belum.
4. Tingkatan
keempat: pada masa akhir tahun kedua, anak setelah menyadari akan pergaulannya
dengan anggota keluarga, anak timbul keinginan untuk ikut campur dalam gerak
dan lakunya.
I.
Perkembangan
Emosi
Pada
masa ini, emosi anak sangat kuat ditandai oleh ledakan amarah, ketakutan vang
hebat, atau iri hati yang tidak masuk akal. Hal ini dikarenakan kelemahan anak
akibat lamanya bermain, tidak mau tidur siang, atau makan terlalu sedikit. Di
samping itu, anak menjadi marah karena tidak dapat melakukan suatu kegiatan
yang dianggap dapat dilakukan dengan mudah
J.
Perkembangan
Moral
Tentang
perkembangan moral anak yang di sesuaikan dengan value/tata nilai yang ada
dapat di jelaskan sebagai berikut.
1) 1;0
– 4;0 = ukuran baik dan buruk bagi
seorang anak itu tergantung dariapa yang di katakan oleh orang tua. Walaupun
anak saat itu belum tahu benar hakikat atau perbedaan antara yang baik dan
buruk itu. Sebab saat itu anak belum juga mampu menguasai dirinya.
2) 4;0
– 8;0 = ukuran tata nilai bagi seorang anak adalah dari yang lahir (realitas).
Anak belum dapat menafsirkan hal-hal nya yang tersirat dari sebuah perbuatan,
anak belum mengetahui yang ia nilai ialah kenyataanya, (dari sebab perbuatan
tadi).
3) 8;0
– 13;0 = anak sudah dapat mengenal ukuran baik, buruk secara batin ( tak nyata
) meskipun masih terbatas, yaitu anak sudah dapat menghargai pendapat atau
alasan perbuatan orang lain. Disinilah anak mulai dapat mengendalikan dirinya
sendiri, walaupun dalam keterbatasan juga.
4) 13;0
– 19;0 = seorang anak sudah mulai sadar betul dengan tata nilai kesusilaan (value). Pada saat ini anak benar-benar
berada dalam kondisi dapat megendalikan dirinya sendiri.
K.
Perkembangan
Agama
The
fairy Tale Stage (tingkat Dongeng, tahap ini dimulai pada anak usia 3-6 tahun. Pada tahap ini konsep
mengenai Tuhan banyak dipengaruhi oleh daya fantasi dan emosi anak. Kehidupan
anak pada masa ini banyak dipengaruhi oleh kehidupan fantasi sehingga anak
berfantasi dengan dongeng-dongeng yang kurang masuk akal. Muhibbin menyatakan
bahwa jiwa keagamaan anak pada usia 3-6 tahun bersifat Unreflektive (tidak
mendalam) dan lebih cenderung menganggap Tuhan sebagai manusia dengan kekuatan
yang lebih besar dari pada orang-orang disekitarnya. Hal tersebut dapat
dipengaruhi oleh watak Egosentris anak, sehingga dalam beragama dan cara
memahami agama masih diorientasikan pada kepentingan diri sendiri.
L.
Peran
Orang Tua
Orang
tua memiliki peranan yang amat penting dalam upaya mendukung perkembangan anak,
khususnya saat mereka berada pada tahapan usia dini. Kewajiban orang tua dalam
mendidik anak-anaknya, yaitu: mendidik anak dengan kasih sayang, membiasakan
anak dengan etika yang baik.
M.
Pendidikan
Anak Usia Dini
Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu upaya pembinaan yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan kepada anak sejak lahir sampai dengan berusia
enam tahun. Paud bertujuan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani
dan rohani anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
REVIEW KELOMPOK 7
Nama : CINDI NOVITA SARI
NPM : 1801051016
Kelas : PGMI B SEMESTER 4
Tugas : Review Kelompok 7
Mata
Kuliah : Psikologi Perkembangan
Perkembangan Anak Pada Masa Sekolah Dasar
Pada
dasarnya tiap-tiap individu manusia adalah unik, satu sama lain berbeda dari
yang lainnya. Jadi, tiap-tiap manusia selalu mempunyai ciri-ciri, sifat-sifat
tersendiri yang membedakannya dari manusia-manusia lainnya, dan ini merupakan
salah satu tanda keperkasaan sang Maha Pencipta menciptakan makhluknya.
Pendidikan dasar merupakan pendidikan minimal yang harus diikuti oleh warga
negara Indonesia yang selanjutnya lebih dikenal dengan program wajib belajar.
Pendidikan di Sekolah Dasar adalah pintu pertama bagi anak untuk masuk jenjang
pendidikan selanjutnya. Jenjang ini merupakan jenjang pendidikan yang penting
sebagai langkah persiapan anak untuk mendapatkan kemampuan dasar ataupun untuk
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Anak usia SD/MI adalah anak-anak usia
7-12 tahun yang berada pada tahap perkembangan tertentu baik secara kognitif,
fisik, moral, maupun sosio emosional. Masing-masing tahap perkembangan tersebut
membentuk karakteristik tertentu yang dimiliki setiap anak dan bersifat unik.
A.
Perkembangan
Fisik dan Motorik Anak Sekolah Dasar
Perkembangan fisik dan motorik anak adalah
sesuatu yang tidak bisa terpisahkan. Fisik seseorang akan mempengaruhi gerak
motoriknya. Perkembangan fisik merupakan suatu proses tumbuh kembang serta
pematangan seluruh organ tubuh manusia sejak lahir hingga dewasa. Perkembangan
fisik anak usia SD dapat dilihat dari gambaran umum menyangkut pertambahan
proporsi tinggi dan berat badan serta ciri-ciri fisik lain yang tampak. Anak
sekolah dasar umumnya berada pada fase tenang, dimana perkembangan fisik pada
masa itu terbilang lambat namun konsisten.
Perkembangan
motorik merupakan proses perkembangan kemampuan gerak seseorang baik itu
motorik kasar maupun motorik halus (hidayati, 2010:61). Motorik kasar adalah
gerakan yang menggunakan hampir seluruh otot besar anggota tubuh. Motorik halus
adalah gerakan yang menggunakan otot kecil serta kordinasi mata dengan tangan.
Secara khusus, pertumbuhan dan perkembangan motorik merupakan fondasi untuk
mengembangkan keterampilan anak sehingga materi dan pola pembelajaran harus
disesuaikan dengan tuntutannya. Pada masa ini, tahap-tahap penguasaan berbagai aktivitas
fisik terlihat jelas. Berkaitan dengan keterampilan motorik kasarnya untuk
pertama kalinya anak mampu bersepedah tanpa bantuan siapapun, memanjat pohon
atau bergelantungan di pohon, terutama pada anak laki-laki.
Saat usia tujuh tahun , umumnya
sudah dapat menulis karena gerakan tangan anak sudah lebih stabil walaupun
kadang kala belum rapi, bahkan banyak anak yang sudah mampu melakukan pada usia
sebelumnya. Pada usia 8-10 tahun, koordinasi motorik halus berkembang lebih
baik lagi, dimana anak sudah dapat menulis huruf bersambung, ukuran huruf lebih
kecil dan rata. Usia 10-12 tahun mereka sudah mampu menunjukan keterampilan
yang lebih kompleks, rumit, dan cepat yang diperlukan untuk menghasilkan
kerajinan yang bermutu bagus atau memainkan musik dengan lagu yang sedikit
sulit. Anak-anak perempuan biasanya menunjukan keterampilan motorik halus yang
lebih baik daripada anak laki-laki.
B.
Perkembangan
Kognitif Anak Sekolah Dasar
Kognitif
adalah sebuah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua
aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan
pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan,
memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis
yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati,
membayangkan, memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya.
Menurut
Teori Perkembangan Kognitif dari Jean Piaget, pada usia sekolah dasar yang
dimulai usia 7 tahun, anak sedang berada pada tahap operasional konkret
(Santrock, 2014, Ghazi & Ullah, 2015). Pada tahap operasional konkret,
aspek kognitif anak akan berkembang pesat, terutama yang berkaitan dengan
penalaran logika. Pada tahap operasional konkret, anak-anak dapat memahami:
1. Konservasi,
yaitu kemampuan anak untuk memahami bahwa suatu zat/objek/benda tetap memiliki
substansi yang sama walaupun mengalami perubahan dalam penampilan. Ada beberapa
macam konservasi seperti konsevasi jumlah, panjang, berat, dan volume.
2. Klasifikasi,
yaitu kemampuan anak untuk mengelompokkan/mengklasifikasikan benda dan memahami
hubungan antarbenda tersebut.
3. Seriation,
yaitu kemampuan anak untuk mengurutkan sesuai dimensi kuantitatifnya. Misalnya
sesuai panjang, besar, dan beratnya.
4. Transitivity,
yaitu kemampuan anak memikirkan relasi gabungan secara logis. Jika ada relasi
antara objek pertama dan kedua, dan ada relasi antara objek kedua dan ketiga,
maka ada relasi antara objek pertama dan ketiga.
C.
Perkembangan
Sosial-Emosional Anak Sekolah Dasar
Perkembangan
emosi dan sosial adalah proses berkembangnya kemampuan anak untuk menyesuaikan
diri terhadap dunia sosial yang lebih luas. Dalam proses perkembangan ini anak
diharapkan mengerti/memahami orang lain yang berarti mampu menggambarkan
ciri-cirinya, mengenali apa yang dipikirkan, dirasa, dan diinginkan serta dapat
menempatkan diri pada sudut pandang orang lain tersebut tanpa “kehilangan”
dirinya sendiri. Perkembangan sosial pada anak-anak Sekolah Dasar ditandai
dengan adanya perluasan hubungan di dalam proses pembelajaran dikelas maupun
saat bermain di luar kelas, disamping dengan keluarga juga dia mulai membentuk
ikatan baru dengan teman sebaya (peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang
gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas. Perkembangan sosial dan emosional pada masa Sekolah Dasar
dipengaruhi oleh lingkungan rumah, masyarakat, dan sekolah. Perkembangan
sosial-emosional pada masa kanak-kanak akhir yakni umur 6-12 tahun selain peran
orang tua maka sekolah juga harus terlibat untuk berperan karena anak-anak
lebih banyak menghabiskan waktunya disekolah.
D.
Perkembangan
Moral Anak Sekolah Dasar
Menurut Peaget anak usia 6-12 tahun
ini berada pada tahap moralitas otonomi, ditandai dengan anak menilai perilaku
atas dasar tujuan yang mendasarinya. Konsep anak tentang keadilan mulai
berubah, gagasan yang kaku dan tidak luwes mengenai benar dan salah, yang
dipelajari dari orang tua, secara bertahap dimodifikasi. Akibatnya, anak mulai
mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran
moral. Misalnya bagi anak usia 5 tahun berbohong selalu “buruk”, tapi anak yang
lebih besar menyadari bahwa berbohong dibenarkan dalam situasi tertentu dan
karenanya tidak selalu “buruk”.
E.
Perkembangan
Minat Anak Sekolah Dasar terhadap Agama
Penghayatan secara rohaniah pada
anak sekolah dasar, semakin mendalam pelaksanaan kegiatan ibadah diterimanya
sebagai keharusan moral. Periode sekolah dasar merupakan masa pembentukan
nilai-nilai agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya. Kualitas keagamaan
anak akan sangat dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang
diterimanya. Berkaitan dengan hal tersebut, pendidikan agama di sekolah dasar
mempunyai peranan yang sangat penting. Pendidikan agama di sekolah dasar merupakan
dasar bagi pembinaan sikap positif terhadap agama dan pembentukan kepribadian
dan akhlak anak. Apabila berhasil, maka pengembangan sikap keagamaan pada masa
remaja akan mudah, karena anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam
menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.
F.
Peran
dan Tanggung Jawab Orang Tua, Masyarakat, Pemerintah terhadap Anak Usia Sekolah
Dasar
Seorang
anak adalah peniru yang baik mereka akan meniru tanpa diminta bahkan kadangkala
juga melakukan improvisasi. Dua fungsi utama orang tua bagi anak : yang pertama
dukungan (parental support) yaitu
dukungan orang tua melalui kedekatan perasaan yang diberikan dan ditunjukkan
orang tua kepada anak. Yang kedua control (
parantel control) yaitu tingkat fleksibilitas orang tua dalam menjalankan
aturan main pola pendisiplinan anak. Kedua fungsi tersebut harus disadari oleh
orang tua dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain.
Masyarakat berhak dan berkewajiban
untuk mendapatkan dan mendukung pendidikan sekolah dasar yang baik. Kewajiban
masyarakat tidak sebatas bantuan dana, lebih dari itu juga pikiran dan gagasan.
Pemerintah berkewajiban membuat gedung sekolah dasar dan menyediakan tenaga /
guru. Melalukan standar disasi kurikulum, menjamin kualitas buku paket, dan lain
sebagainya. Karena peran pemerintah sangat terbatas maka diperlukan peran
masyarakat. Jadi, masyarakat berkewajiban membantu penyelenggaraan pendidikan.
G.
Pendidikan
Dasar bagi Anak
Pendidikam dasar terdapat dalam Undang-Undang RI Nomor 20
Tahun 2003 pasal 17 ayat 1 yang menyebutkan bahwa “ Pendidikan dasar merupakan
jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.” Dalam Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan untuk Satuan Pendidikan Dasar (Tahun 2007 Semester
I&II) dijelaskan bahwa “Tujuan Pendidikan Dasar adalah meletakan dasar
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlaq mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut”.
Komentar
Posting Komentar