REVIEW KELOMPOK 3
Nama : Cindi Novita Sari
NPM : 1801051016
Kelas : PGMI B Semester 3
Tugas : Review Kelompok 3
Teori
Psikologi Perkembangan dan Beberapa Hasil Risetnya
Fase
perkembangan dapat diartikan sebagai tahapan atau pembenentukan tentang
pelajaran kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola
tingkah laku tertentu. Ada beberapa alasan mengapa guru atau mahasiswa calon
guru perlu memahami perkembangan peserta didik. Alasan-alasan itu sebagai
berikut: mempelajari dan memahami aspek perkembangan peserta didik adalah salah
satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, melalui pemahaman
tentang aspek-aspek perkembangan serta faktor-faktor yang mempegaruhi
perkembangan peserta didik, dapat memfasilitasi perkembangan tersebut dengan
berbagai upaya, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Selain
itu dapat memfasilitasi upaya untuk mencegah berbagai kendala atau masalah yang
mungkin akan menghambat perkembangan anak khususnya anak sekolah dasar.
A. Teori Psikoanlisis
Psikoanalisis
didirikan oleh Sigmund Freud. Aliran psikoanalisis secara tegas memperhatikan
struktur jiwa manusia. Fokus aliran ini adalah totalitas kepribadian manusia
bukan pada bagian-bagian yang terpisah. Menurut aliran ini, perilaku manusia
dianggap sebagai hasil interaksi subsistem dalam kepribadian manusia, yang
pertama Id (adalah tabiat hewani
merupakan pusat insting yang bergerak berdasarkan prinsip kesenangan dan
cenderung memenuhi kebutuhannya, bersifat egoistis, tidak bermoral, dan tidak
mau tahu dengan kenyataan), yang kedua ego
(adalah kepribadian yang bertugas menilai realitas dan berhubungan dengan dunia
dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai
superego, egolah yang menyebabkan manusia menundukkan hasrat hewaninya dan hidup
sebagai wujud rasional) dan yang ketiga super
ego (dipergunakan untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku manusia.
Maksudnya segala perilaku manusia itu akan dibuat untuk tidak melanggar
norma-norma, adat, serta budaya yang ada di masyarakat. Superego akan
memberikan penilaian dan melakukan pilihan benar salah, baik buruk bermoral
atau tidak. Pilihan ini adalah merupakan solusi bagi Ego dalam
memberikan keputusan atas tuntutan id).
Hasil
riset psikoanalisis
pada “Visualisasi Karya Penderita Gangguan Kejiwaan Di Unit Informasi Layanan
Sosial Meruya”, Aliyah merupakan orang yang sensitif dengan kondisi lingkungan
sekitarnya. Dilihat dari frame yang selalu dipenuhi dengan gambar-gambar
dekoratif menunjukkan bahwa Aliyah merupakan orang yang sangat mencintai
keindahan. Akan tetapi disisi lain, Aliyah menyandang “Horror vacui” yakni
takut akan kekosongan”.
B. Teori Behaviorisme
Behaviorisme
adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Behaviorisme hanya menganalisis
perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukis, dan diramalkan. Teori
dari aliran ini dikenal dengan teori belajar. Karena menurut mereka, seluruh
perilaku manusia adalah hasil dari belajar. Belajar menurut psikologi
behavioristik merupakan suatu control
instrumental yang berasal dari lingkungan. Dengan demikian maka belajar
atau tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang
diberikan lingkungan. Belajar dalam behaviorsme dapat dilakukan dengan melatih
refleks-refleks sedemikian rupa sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan yang
dikuasai individu. Menurut behaviorisme belajar merupakan suatu akibat dari
adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Menurut teori ini,
dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output yang
berupa respon.
Hasil
riset Teori Behaviorisme Di SMKN 6 Malang. Hasilnya pada siswa meliputi
perubahan pola pikir yang lebih mencintai lingkungan dan perubahan perilaku
yaitu mengelola sampah secara bijak dengan menabungkan sampah di bank sampah
sekolah sebagaimana tujuan belajar menurut pandangan behavioristik adalah
membentuk tingkah laku yang diinginkan dan diharapkan.
C. Teori Kognitivisme
Menurut
Piaget, pengetahuan seseorang mengalami perkembangan dari lahir sampai ia menjadi
dewasa. Kognitif perkembangannya diawali
dengan perkembangan kemampuan
mengamati, melihat hubungan dan memecahan masalah yang sederhana, kemudian
berkembang kearah pemahaman dan pemecahan masalah yang lebih rumit. Aspek ini
berkembang pesat pada masa anak mulai masuk sekolah (usia 6-7 tahun).
Berkembang konstan selama masa belajar dan mencapai puncaknya pada masa sekolah
menengah ke atas (16-17 tahun). Pengetahuan dibentuk oleh siswa atau orang yang
sedang belajar. Dengan demikian, pengetahuan tidak diterima begitu saja dari
otak guru, melainkan siswa sendiri lah yang mengorganisasikan, memikirkan dan
membentuk pengetahuan ini. Dinamika perkembangan intelektual individu mengikuti
dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif
dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru ke
dalam struktur kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Struktur kognitif
yang dimaksud adalah segala pengetahuan individu yang membentuk pola-pola
kognitif tertentu. Jadi struktur kognitif sesungguhnya merupakan kumpulan dari
pengalaman dalam kognisi individu.
Hasil riset, “Kemampuan
kognitif anak usia dasar berbeda-beda di setiap tingkatan usianya. KBM akan
efektif dan anak akan mendapatkan pengetahuan secara maksimal apabila materi,
strategi, model dan metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kemampuan
kognitif anak, mulai dari tahap pemikiran yang konkret hingga pada tahap
pemikiran yang formal”.
D. Teori Humanitik
Konsepsi
aliran humanistik menjelaskan bahwa peserta didik merupakan pelaku yang aktif
dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya. Berbeda dengan
teori psikoanalisis, teori humanistis melihat kreativitas sebagai hasil dari
kesehatan psikologis tinggi. Kreativitas dapat
berkembang selama hidup, dan tidak terbatas pada lima tahun pertama.
Diantara tokoh-tokoh yang termasuk
kategori teori humanistis ini adalah teori Maslow, yang ditokohi oleh
Abraham Maslow (1908-1970) pendukung
utama dari teori humanistis. Menurutnya manusia mempunyai naluri-naluri
dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan, dimana kebutuhan tersebut harus
dipenuhi dalam urutan tertentu. Rogers mengemukakan
tiga kondisi dari pribadi kreatif, yaitu: keterbukaan terhadap pengalaman,
kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan pribadi seseorang ( internal focus of evaluation), dan
kemampuan untuk bereksperimen.
Hasil
Riset Teori Humanistis “Model Konseling Kelompok Eksistensial Humanistik Untuk
Mengurangi Kecemasan Siswa Menentukan Arah Peminatan SMAN Semarang”. Dapat disimpulkan
bahwa gambaran pelaksanaan layanan konseling kelompok pelaksanaan secara nyata
sering tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan pada program tahunan,
semesteran, bulanan dan mingguan. Model konseling
kelompok eksistensial humansitik efektif mengurangi kecemasan siswa menentukan
arah peminatan pada kedua aspek kecemasan, yaitu dari aspek fisiologis dan
aspek psikologis siswa.
ANALISIS FILM TAARE ZAMEEN PAR (2007)
Nama :
Cindi Novita Sari
Kelas :
Pgmi B Semester 3
NPM : 1801051016
Tugas :
Analisis Film
Judul
Film : Taare Zameen Par (2007)
Sutradara : Aamir Khan
Taare
Zameen Par (2007)
Taare
Zameen Par merupakan film yang menceritakan tentang kisah seorang anak
laki-laki bernama Ishaan Nandkishore Awasthi yang berusia 9 tahun dan mengidap dyslexia. Dyslexia adalah gangguan dalam belajar dimana anak tidak bisa
membaca dan menulis. Dalam film ini menunjukkan bahwa Ishaan sangat kesulitan dalam
perihal membaca dan menulis. Ishaan sangat sulit membedakan huruf b dan d, ia
juga sulit membedakan kata top dan pot, dan seolah-olah tulisan itu menari-nari
dalam penglihatannya. Hidupnya lebih santai dan ia juga sangat berani
berkeliling kota sendiri tanpa didampingi orang dewasa yang mana hal ini sering
dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Namun di sisi lain, Ishaan
memiliki kemampuan yang luar biasa dalam dunia seni, ia sangat pandai melukis.
Ishan juga memiliki imajinasi yang sangat tinggi, pandai bermain puzzle, ia
juga sangat konsisten dalam ucapannya, dan ia juga pandai dalam mengumpulkan
barang aneh untuk dijadikan sesuatu yang sangat menakjubkan bagi teman-teman di
sekitarnya (contoh: perahu dari ranting kayu, daun, dan baling-baling perahu
dari benda-benda yang ia temukan). Namun, orang-orang di sekitar Ishaan sering
menganggap ia aneh dan bodoh karena kesulitannya dalam menulis dan membaca.
Ishan
memiliki kakak laki-laki yang sangat cerdas dan sering mendapatkan nilai ujian
yang sempurna. Sehingga orang-orang di sekitarnya sering membandingkan Ishaan
dengan kakaknya tersebut. Ayahnya sangat otoriter, ia hanya berpikir bahwa
anaknya harus sekolah dengan cerdas, sukses dalam bekerja, dan mampu bersaing
dengan orang lain, tanpa mau melihat keterbatasan yang dimiliki oleh Ishaan.
Sedangkan ibu Ishaan, ia merupakan seorang ibu yang sangat penyayang. Ibunya
sangat menyayangi Ishaan, namun ia juga tidak mengerti kenapa Ishaan sangat
sulit menulis dan membaca. Saat diajarkan oleh Ibunya pun Ishaan selalu
mengulangi kesalahan yang sama, namun Ibunya tetap tidak mengerti karena kurang
pahamnya ia terhadap tingkah laku anaknya tersebut.
Di
sekolah lama, Ishaan bersekolah di sekolah formal, ia diajar oleh guru yang
mana guru yang mengajarnya pun dapat disebut sebagai guru robot. Guru hanya
menjelaskan di depan kelas tanpa mau tahu kondisi siswanya dan siswanya harus
mengikuti perintah guru tersebut tanpa ampun. Jika melanggar, akan diberi
hukuman dan diberi nilai kecil atau yang paling buruk akan tinggal kelas. Suatu
hari, pihak sekolah lama Ishaan sudah tidak sanggup dengan keadaan Ishaan yang
tidak menunjukkan peningkatan apapun (Ishaan sedang mengulang kelas 3).
Akhirnya Ishaan dipindahkan ke asrama oleh orang tuanya agar ia tidak mengulang
kelas 3 untuk yang kedua kalinya. Ishaan memiliki pemikiran yang sangat ajaib.
Menurutnya, jika ia harus tinggal di asrama itu artinya keluarga Ishaan sudah
tidak sayang lagi padanya. Menurutku, Ishaan juga sangat peka terhadap
lingkungan, terbukti dari gambar yang ia gambar dan memperlihatkan ia akan
menjauh dari keluarganya. Ia seperti bisa membaca situasi yang akan datang atau
Ishaan memiliki pemikiran yang lebih tinggi dari teman-teman seusianya.
Di
sekolah baru pun kehidupannya juga tidak jauh berbeda dengan sekolah lama Ishaan.
Gurunya pun masih bisa disebut sebagai guru robot yang harus taat terhadap
aturan bahkan gurunya pun lebih galak daripada guru sebelumnya. Ishaan pun
semakin tertekan dengan keadaannya saat ini. Jauh dari orang tua dan harus
menghadapai guru-gurunya yang sangat otoriter. Ia banyak merenung dan berdiam
diri. Seakan melenyapkan suaranya. Ishaan juga masuk ke dalam tahap tidak mau
lagi melukis dan berimajinasi. Seperti anak yang hampir stres atau bahkan sudah
depresi, karena ia pun juga sudah berusaha untuk bisa menulis dan membaca,
namun tetap tidak bisa. Ishaan pun melampiaskan semua itu dengan berlari
mengelilingi lapangan sebanyak mungkin. Ia tidak melakukan hal-hal yang
membahayakan untuk dirinya sendiri.
Suatu
hari ada seorang guru lukis pengganti yang ditetapkan oleh pihak sekolah untuk
menggantikan guru lukis sebelumnya yang harus pindah tugas ke luar negeri,
namaya Mr. Ram Shankar Nikumbh. Ternyata Mr. Ram ini paham dengan keadaan Ishaan
karena saat kecil ia juga mengalamai dyslexia.
Mr. Ram ini dapat disebut sebagai gurunya manusia karena dapat memahami kondisi
anak dan juga ikhlas dalam memberi ilmu. Setelah paham dengan keadaan Ishaan,
ia pun berusaha untuk memberitahu kondisi Ishaan kepada orang tua Ishaan.
Awalnya orang tua Ishaan tidak terima dengan penjelasan Mr. Ram tersebut.
Namun, setelah diberikan perumpamaan tentang kondisi Ishaan, barulah orang tua
Ishaan terima dan menyerahkan semuanya kepada Mr. Ram.
Mr.
Ram pun berusaha dengan kemampuan yang ia miliki untuk membantu Ishaan.
Hingga meminta persetujuan pihak sekolah
untuk mengadakan belajar tambahan untuk Ishaan agar Ishaan tidak dipindahkan
dari sekolah ini. Dengan tekad yang besar, akhirnya Mr. Ram membantu Ishaan
untuk dapat membaca dan menulis dengan baik. Mr. Ram mengganti media belajar
Ishaan dengan hal-hal yang Ishaan senangi, seperti menulis di atas papan lukis,
menulis di pasir, berhitung di atas tangga, dan lain-lain. Akhirnya, Ishaan pun
dapat membaca dan menulis dengan baik serta dapat mengembangkan potensi melukis
yang ia miliki dengan baik pula.
Dari
penjelasan ini dapat saya simpulkan bahwa dyslexia
itu dapat disembuhkan. Dengan mengganti media belajar yang anak senangi atau
belajar dengan metode observasi atau metode lainnya. Jadi, belajar tidak akan
terasa monoton yang hanya dilakukan di kelas, papan tulis, buku, dan kertas.
Anak yang mengalami dyslexia pun
dapat bersekolah di sekolah formal dan tidak harus bersekolah di sekolah luar
biasa. Dengan bantuan gurunya manusia, yang mengerti kondisi anak tersebut.
Anak yang mengalami dyslexia,
memiliki kemampuan yang menakjubkan di bidang lain seperti melukis. Anak ini
juga memiliki imajinasi yang sangat tinggi, keberanian yang baik, kemampuan
analisis yang kuat, dan memiliki perasaan yang peka terhadap lingkungan
sekitarnya. Sebagai guru dan orang tua, kita juga harus memahami kemampuan dan
kemauan anak. Akan lebih baik menjadi gurunya manusia dan orang tua yang
mengerti kapan harus menerapkan pola asuh demokratis dan otoriter. Jadi, jangan
hanya melihat kekurangan anak saja atau hanya melihat anak dari satu sisi. Gali
potensi lainnya yang ada pada anak tersebut. Agar masa depan mereka benar-benar
sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Karena masa depan bukan hanya bekerja
di balik meja kantor saja, banyak pekerjaan yang membuat anak-anak sukses
dengan kemampuan yang ia miliki.
Komentar
Posting Komentar