A New Journey

Perihal jodoh harus dikejar atau ditunggu? Kata cak Nun, "kamu harus berbuat benar terlebih dahulu kepada dirimu sendiri dan bersabar". Sederhana tapi sangat bermakna. Mirip-mirip dengan kalimat "self love", tapi menurutku kalo self love banyak yang mengartikan untuk berbuat apapun yang kita suka. Kalo cak Nun konteksnya lebih ke perbaiki diri terlebih dahulu, kamu harus baik terhadap diri kamu sendiri, harus sayang, harus menjaga kesehatan diri, tidak membuat diri berpikir negatif, tidak membuat kerusakan terhadap diri, harus cinta dengan diri sendiri lalu bersabar. Insyaallah, Allah beri yang kita butuhkan. Kalau diri sudah baik, Insyaallah akan selalu dilingkupi oleh kebaikan juga. Wallahu a'lam. Tapi, kalau kamu masih galau dan meresahkan masa lalu, aku hanya tau, kamu belum melakukan kebaikan terhadap dirimu. Let's make a new journey Cin. Allah ada untuk kamu, sayang banget kalau hidup cuma sekali dan cuma digunain untuk menyesali masa lalu. Gapai ilmu ...

Review Kelompok 3 dan Analisis Film Taare Zaamen Par (2007)

REVIEW KELOMPOK 3

Nama               : Cindi Novita Sari
NPM               : 1801051016
Kelas               : PGMI B Semester 3
Tugas               : Review Kelompok 3

Teori Psikologi Perkembangan dan Beberapa Hasil Risetnya

Fase perkembangan dapat diartikan sebagai tahapan atau pembenentukan tentang pelajaran kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Ada beberapa alasan mengapa guru atau mahasiswa calon guru perlu memahami perkembangan peserta didik. Alasan-alasan itu sebagai berikut: mempelajari dan memahami aspek perkembangan peserta didik adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, melalui pemahaman tentang aspek-aspek perkembangan serta faktor-faktor yang mempegaruhi perkembangan peserta didik, dapat memfasilitasi perkembangan tersebut dengan berbagai upaya, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Selain itu dapat memfasilitasi upaya untuk mencegah berbagai kendala atau masalah yang mungkin akan menghambat perkembangan anak khususnya anak sekolah dasar.

A.    Teori Psikoanlisis
Psikoanalisis didirikan oleh Sigmund Freud. Aliran psikoanalisis secara tegas memperhatikan struktur jiwa manusia. Fokus aliran ini adalah totalitas kepribadian manusia bukan pada bagian-bagian yang terpisah. Menurut aliran ini, perilaku manusia dianggap sebagai hasil interaksi subsistem dalam kepribadian manusia, yang pertama Id (adalah tabiat hewani merupakan pusat insting yang bergerak berdasarkan prinsip kesenangan dan cenderung memenuhi kebutuhannya, bersifat egoistis, tidak bermoral, dan tidak mau tahu dengan kenyataan), yang kedua ego (adalah kepribadian yang bertugas menilai realitas dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego, egolah yang menyebabkan manusia menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud rasional) dan yang ketiga super ego (dipergunakan untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku manusia. Maksudnya segala perilaku manusia itu akan dibuat untuk tidak melanggar norma-norma, adat, serta budaya yang ada di masyarakat. Superego akan memberikan penilaian dan melakukan pilihan benar salah, baik buruk bermoral atau tidak. Pilihan ini adalah merupakan solusi bagi Ego dalam memberikan keputusan atas tuntutan id).
Hasil riset psikoanalisis pada “Visualisasi Karya Penderita Gangguan Kejiwaan Di Unit Informasi Layanan Sosial Meruya”, Aliyah merupakan orang yang sensitif dengan kondisi lingkungan sekitarnya. Dilihat dari frame yang selalu dipenuhi dengan gambar-gambar dekoratif menunjukkan bahwa Aliyah merupakan orang yang sangat mencintai keindahan. Akan tetapi disisi lain, Aliyah menyandang “Horror vacui” yakni takut akan kekosongan”.

B.     Teori Behaviorisme
Behaviorisme adalah suatu studi tentang kelakuan manusia. Behaviorisme hanya menganalisis perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukis, dan diramalkan. Teori dari aliran ini dikenal dengan teori belajar. Karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil dari belajar. Belajar menurut psikologi behavioristik merupakan suatu control instrumental yang berasal dari lingkungan. Dengan demikian maka belajar atau tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan. Belajar dalam behaviorsme dapat dilakukan dengan melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan yang dikuasai individu. Menurut behaviorisme belajar merupakan suatu akibat dari adanya interaksi antara stimulus (S) dengan respon (R). Menurut teori ini, dalam belajar yang penting adalah adanya input berupa stimulus dan output yang berupa respon.
Hasil riset Teori Behaviorisme Di SMKN 6 Malang. Hasilnya pada siswa meliputi perubahan pola pikir yang lebih mencintai lingkungan dan perubahan perilaku yaitu mengelola sampah secara bijak dengan menabungkan sampah di bank sampah sekolah sebagaimana tujuan belajar menurut pandangan behavioristik adalah membentuk tingkah laku yang diinginkan dan diharapkan.

C.    Teori Kognitivisme
Menurut Piaget, pengetahuan seseorang mengalami perkembangan dari lahir sampai ia menjadi dewasa. Kognitif perkembangannya diawali  dengan  perkembangan kemampuan mengamati, melihat hubungan dan memecahan masalah yang sederhana, kemudian berkembang kearah pemahaman dan pemecahan masalah yang lebih rumit. Aspek ini berkembang pesat pada masa anak mulai masuk sekolah (usia 6-7 tahun). Berkembang konstan selama masa belajar dan mencapai puncaknya pada masa sekolah menengah ke atas (16-17 tahun). Pengetahuan dibentuk oleh siswa atau orang yang sedang belajar. Dengan demikian, pengetahuan tidak diterima begitu saja dari otak guru, melainkan siswa sendiri lah yang mengorganisasikan, memikirkan dan membentuk pengetahuan ini. Dinamika perkembangan intelektual individu mengikuti dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru ke dalam struktur kognitif yang sudah ada di dalam pikirannya. Struktur kognitif yang dimaksud adalah segala pengetahuan individu yang membentuk pola-pola kognitif tertentu. Jadi struktur kognitif sesungguhnya merupakan kumpulan dari pengalaman dalam kognisi individu.
Hasil riset, “Kemampuan kognitif anak usia dasar berbeda-beda di setiap tingkatan usianya. KBM akan efektif dan anak akan mendapatkan pengetahuan secara maksimal apabila materi, strategi, model dan metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan kemampuan kognitif anak, mulai dari tahap pemikiran yang konkret hingga pada tahap pemikiran yang formal”.

D.    Teori Humanitik
Konsepsi aliran humanistik menjelaskan bahwa peserta didik merupakan pelaku yang aktif dalam merumuskan strategi transaksional dengan lingkungannya. Berbeda dengan teori psikoanalisis, teori humanistis melihat kreativitas sebagai hasil dari kesehatan psikologis tinggi. Kreativitas dapat  berkembang selama hidup, dan tidak terbatas pada lima tahun pertama. Diantara tokoh-tokoh yang termasuk  kategori teori humanistis ini adalah teori Maslow, yang ditokohi oleh Abraham Maslow (1908-1970) pendukung  utama dari teori humanistis. Menurutnya manusia mempunyai naluri-naluri dasar yang menjadi nyata sebagai kebutuhan, dimana kebutuhan tersebut harus dipenuhi dalam urutan tertentu. Rogers mengemukakan tiga kondisi dari pribadi kreatif, yaitu: keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan pribadi seseorang ( internal focus of evaluation), dan kemampuan untuk bereksperimen.

Hasil Riset Teori Humanistis “Model Konseling Kelompok Eksistensial Humanistik Untuk Mengurangi Kecemasan Siswa Menentukan Arah Peminatan SMAN Semarang”. Dapat disimpulkan bahwa gambaran pelaksanaan layanan konseling kelompok pelaksanaan secara nyata sering tidak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan pada program tahunan, semesteran, bulanan dan mingguan. Model konseling kelompok eksistensial humansitik efektif mengurangi kecemasan siswa menentukan arah peminatan pada kedua aspek kecemasan, yaitu dari aspek fisiologis dan aspek psikologis siswa.

ANALISIS FILM TAARE ZAMEEN PAR (2007)

Nama               : Cindi Novita Sari
Kelas               : Pgmi B Semester 3
NPM               : 1801051016
Tugas               : Analisis Film
Judul Film       : Taare Zameen Par (2007)
Sutradara         : Aamir Khan

Taare Zameen Par (2007)

Taare Zameen Par merupakan film yang menceritakan tentang kisah seorang anak laki-laki bernama Ishaan Nandkishore Awasthi yang berusia 9 tahun dan mengidap dyslexia. Dyslexia adalah gangguan dalam belajar dimana anak tidak bisa membaca dan menulis. Dalam film ini menunjukkan bahwa Ishaan sangat kesulitan dalam perihal membaca dan menulis. Ishaan sangat sulit membedakan huruf b dan d, ia juga sulit membedakan kata top dan pot, dan seolah-olah tulisan itu menari-nari dalam penglihatannya. Hidupnya lebih santai dan ia juga sangat berani berkeliling kota sendiri tanpa didampingi orang dewasa yang mana hal ini sering dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Namun di sisi lain, Ishaan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam dunia seni, ia sangat pandai melukis. Ishan juga memiliki imajinasi yang sangat tinggi, pandai bermain puzzle, ia juga sangat konsisten dalam ucapannya, dan ia juga pandai dalam mengumpulkan barang aneh untuk dijadikan sesuatu yang sangat menakjubkan bagi teman-teman di sekitarnya (contoh: perahu dari ranting kayu, daun, dan baling-baling perahu dari benda-benda yang ia temukan). Namun, orang-orang di sekitar Ishaan sering menganggap ia aneh dan bodoh karena kesulitannya dalam menulis dan membaca.

Ishan memiliki kakak laki-laki yang sangat cerdas dan sering mendapatkan nilai ujian yang sempurna. Sehingga orang-orang di sekitarnya sering membandingkan Ishaan dengan kakaknya tersebut. Ayahnya sangat otoriter, ia hanya berpikir bahwa anaknya harus sekolah dengan cerdas, sukses dalam bekerja, dan mampu bersaing dengan orang lain, tanpa mau melihat keterbatasan yang dimiliki oleh Ishaan. Sedangkan ibu Ishaan, ia merupakan seorang ibu yang sangat penyayang. Ibunya sangat menyayangi Ishaan, namun ia juga tidak mengerti kenapa Ishaan sangat sulit menulis dan membaca. Saat diajarkan oleh Ibunya pun Ishaan selalu mengulangi kesalahan yang sama, namun Ibunya tetap tidak mengerti karena kurang pahamnya ia terhadap tingkah laku anaknya tersebut.

Di sekolah lama, Ishaan bersekolah di sekolah formal, ia diajar oleh guru yang mana guru yang mengajarnya pun dapat disebut sebagai guru robot. Guru hanya menjelaskan di depan kelas tanpa mau tahu kondisi siswanya dan siswanya harus mengikuti perintah guru tersebut tanpa ampun. Jika melanggar, akan diberi hukuman dan diberi nilai kecil atau yang paling buruk akan tinggal kelas. Suatu hari, pihak sekolah lama Ishaan sudah tidak sanggup dengan keadaan Ishaan yang tidak menunjukkan peningkatan apapun (Ishaan sedang mengulang kelas 3). Akhirnya Ishaan dipindahkan ke asrama oleh orang tuanya agar ia tidak mengulang kelas 3 untuk yang kedua kalinya. Ishaan memiliki pemikiran yang sangat ajaib. Menurutnya, jika ia harus tinggal di asrama itu artinya keluarga Ishaan sudah tidak sayang lagi padanya. Menurutku, Ishaan juga sangat peka terhadap lingkungan, terbukti dari gambar yang ia gambar dan memperlihatkan ia akan menjauh dari keluarganya. Ia seperti bisa membaca situasi yang akan datang atau Ishaan memiliki pemikiran yang lebih tinggi dari teman-teman seusianya.

Di sekolah baru pun kehidupannya juga tidak jauh berbeda dengan sekolah lama Ishaan. Gurunya pun masih bisa disebut sebagai guru robot yang harus taat terhadap aturan bahkan gurunya pun lebih galak daripada guru sebelumnya. Ishaan pun semakin tertekan dengan keadaannya saat ini. Jauh dari orang tua dan harus menghadapai guru-gurunya yang sangat otoriter. Ia banyak merenung dan berdiam diri. Seakan melenyapkan suaranya. Ishaan juga masuk ke dalam tahap tidak mau lagi melukis dan berimajinasi. Seperti anak yang hampir stres atau bahkan sudah depresi, karena ia pun juga sudah berusaha untuk bisa menulis dan membaca, namun tetap tidak bisa. Ishaan pun melampiaskan semua itu dengan berlari mengelilingi lapangan sebanyak mungkin. Ia tidak melakukan hal-hal yang membahayakan untuk dirinya sendiri.

Suatu hari ada seorang guru lukis pengganti yang ditetapkan oleh pihak sekolah untuk menggantikan guru lukis sebelumnya yang harus pindah tugas ke luar negeri, namaya Mr. Ram Shankar Nikumbh. Ternyata Mr. Ram ini paham dengan keadaan Ishaan karena saat kecil ia juga mengalamai dyslexia. Mr. Ram ini dapat disebut sebagai gurunya manusia karena dapat memahami kondisi anak dan juga ikhlas dalam memberi ilmu. Setelah paham dengan keadaan Ishaan, ia pun berusaha untuk memberitahu kondisi Ishaan kepada orang tua Ishaan. Awalnya orang tua Ishaan tidak terima dengan penjelasan Mr. Ram tersebut. Namun, setelah diberikan perumpamaan tentang kondisi Ishaan, barulah orang tua Ishaan terima dan menyerahkan semuanya kepada Mr. Ram.

Mr. Ram pun berusaha dengan kemampuan yang ia miliki untuk membantu Ishaan. Hingga  meminta persetujuan pihak sekolah untuk mengadakan belajar tambahan untuk Ishaan agar Ishaan tidak dipindahkan dari sekolah ini. Dengan tekad yang besar, akhirnya Mr. Ram membantu Ishaan untuk dapat membaca dan menulis dengan baik. Mr. Ram mengganti media belajar Ishaan dengan hal-hal yang Ishaan senangi, seperti menulis di atas papan lukis, menulis di pasir, berhitung di atas tangga, dan lain-lain. Akhirnya, Ishaan pun dapat membaca dan menulis dengan baik serta dapat mengembangkan potensi melukis yang ia miliki dengan baik pula.

Dari penjelasan ini dapat saya simpulkan bahwa dyslexia itu dapat disembuhkan. Dengan mengganti media belajar yang anak senangi atau belajar dengan metode observasi atau metode lainnya. Jadi, belajar tidak akan terasa monoton yang hanya dilakukan di kelas, papan tulis, buku, dan kertas. Anak yang mengalami dyslexia pun dapat bersekolah di sekolah formal dan tidak harus bersekolah di sekolah luar biasa. Dengan bantuan gurunya manusia, yang mengerti kondisi anak tersebut. Anak yang mengalami dyslexia, memiliki kemampuan yang menakjubkan di bidang lain seperti melukis. Anak ini juga memiliki imajinasi yang sangat tinggi, keberanian yang baik, kemampuan analisis yang kuat, dan memiliki perasaan yang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Sebagai guru dan orang tua, kita juga harus memahami kemampuan dan kemauan anak. Akan lebih baik menjadi gurunya manusia dan orang tua yang mengerti kapan harus menerapkan pola asuh demokratis dan otoriter. Jadi, jangan hanya melihat kekurangan anak saja atau hanya melihat anak dari satu sisi. Gali potensi lainnya yang ada pada anak tersebut. Agar masa depan mereka benar-benar sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Karena masa depan bukan hanya bekerja di balik meja kantor saja, banyak pekerjaan yang membuat anak-anak sukses dengan kemampuan yang ia miliki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Kelompok 12 (Masa Lanjut Usia)